Berita Property
Jakarta- Menggeliatnya perekonomian nasional ditambah mulai berlakunya program amnesti pajak memicu properti di paruh kedua tahun ini mulai kembali menggeliat. Pengembang yang sudah lama eksis di kancah properti Tanah Air, PT Intiland Development Tbk pun telah menyiapkan berbagai strategi dengan memperkuat produk dan mengikuti dinamika pasar.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Archid Noto Pradono mengatakan, saat ini merupakan momentum untuk para pengembang melakukan penjualan setelah dua tahun belakangan ini industri properti melemah. Katalis yang muncul saat ini, termasuk pemberlakuan amnesti pajak dan perbaikan makro ekonomi diakuinya sudah pasti menjadi daya tarik para investor untuk membeli properti ditengah harga saham yang sudah naik cukup tinggi saat ini.
"Kuartal III dan IV, properti sudah mulai pulih dan efeknya akan terus berlanjut jika spendinginfrastruktur pemerintah terus jalan. Apalagi, industri pendukung sudah mulai bagus, bunga perbankan untuk kredit properti juga sudah mulai berlomba untuk turun dan itu sangat mendorong sekali. Sehingga, demand akan belanja rumah sudah mulai ada, terlihat trafik konsumen untuk bertanya bagi konsumen menengah atas banyak, sedangkan bagi menengah kebawah sudah mulai melakukan pembelian," ujarnya saat media visit ke kantor BeritaSatu Media Holdings, di Jakarta, Selasa (9/8).
Untuk menangkap peluang tersebut, Intiland dikatakan Archid akan menggarap produk yang memiliki sisi diferensiasi dengan produk-produk lainnya. Pasalnya, konsumen makin lama kebutuhannya makin kompleks. "Konsumen butuh lifestyle. Jadi, jelas produk kita diferensiasi dan inovatif yang jelas," imbuhnya.
Adapun tahun ini, emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham DILD tersebut telah meluncurkan sejumlah produk seperti The Rosebay, hunian vertikal di kawasan Graha Famili, Surabaya, dan memulai pengembangan tahap II perumahan Graha Natura, Surabaya. Perseroan masih memiliki rencana untuk meluncurkan pengembangan mixed-use dan high-rise skala besar di pusat bisnis Jakarta dan Surabaya.
Properti sambungnya, akan makin bergairah jika Bank Indonesia memperlonggar aturan Loan to Value(LTV) dan Loan to Funding Ratio (LTFR), serta pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan sistem inden di luar rumah pertama. Selain itu, penghapusan pajak ganda pada kontrak investasi kolektif dana investasi real estate (DIRE) atau real estate investment trust (REIT) juga akan memberikan peluang bagi pengembang membuat proyek-proyek yang dibutuhkan konsumen. "Untuk DIRE kami lagi tunggu peraturan dari Menteri Dalam Negeri soal BPHTB. Yang baru punya komitmen baru Ahok (Gubernur DKI Jakarta)," ujarnya.
Sementara itu, perseroan, dikatakan Archid akan memperkuat kemitraan dengan pemilik lahan. Hal itu terlihat dari komposisi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini yang dianggarkan sebesar Rp 2 triliun di mana 90 persennya dianggarkan untuk konstruksi. "Tahun ini, kami tak banyak belanja tanah, tapi lebih fokus ke konstruksi. Kami mau bagi hasil dengan yang punya tanah. Jadi, bisa hemat di capex," kata dia.
Saat ini, Intiland tercatat memiliki cadangan lahan (landbank) seluas 2.000 hektare (ha), di mana 1.000 ha diantaranya berada di Maja. "Landbank masih cukup untuk pengembangan 10-15 tahun ke depan," ungkapnya
Suara Pembaruan
Lona Olavia/MER
Suara Pembaruan
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Archid Noto Pradono mengatakan, saat ini merupakan momentum untuk para pengembang melakukan penjualan setelah dua tahun belakangan ini industri properti melemah. Katalis yang muncul saat ini, termasuk pemberlakuan amnesti pajak dan perbaikan makro ekonomi diakuinya sudah pasti menjadi daya tarik para investor untuk membeli properti ditengah harga saham yang sudah naik cukup tinggi saat ini.
"Kuartal III dan IV, properti sudah mulai pulih dan efeknya akan terus berlanjut jika spendinginfrastruktur pemerintah terus jalan. Apalagi, industri pendukung sudah mulai bagus, bunga perbankan untuk kredit properti juga sudah mulai berlomba untuk turun dan itu sangat mendorong sekali. Sehingga, demand akan belanja rumah sudah mulai ada, terlihat trafik konsumen untuk bertanya bagi konsumen menengah atas banyak, sedangkan bagi menengah kebawah sudah mulai melakukan pembelian," ujarnya saat media visit ke kantor BeritaSatu Media Holdings, di Jakarta, Selasa (9/8).
Untuk menangkap peluang tersebut, Intiland dikatakan Archid akan menggarap produk yang memiliki sisi diferensiasi dengan produk-produk lainnya. Pasalnya, konsumen makin lama kebutuhannya makin kompleks. "Konsumen butuh lifestyle. Jadi, jelas produk kita diferensiasi dan inovatif yang jelas," imbuhnya.
Adapun tahun ini, emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham DILD tersebut telah meluncurkan sejumlah produk seperti The Rosebay, hunian vertikal di kawasan Graha Famili, Surabaya, dan memulai pengembangan tahap II perumahan Graha Natura, Surabaya. Perseroan masih memiliki rencana untuk meluncurkan pengembangan mixed-use dan high-rise skala besar di pusat bisnis Jakarta dan Surabaya.
Properti sambungnya, akan makin bergairah jika Bank Indonesia memperlonggar aturan Loan to Value(LTV) dan Loan to Funding Ratio (LTFR), serta pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan sistem inden di luar rumah pertama. Selain itu, penghapusan pajak ganda pada kontrak investasi kolektif dana investasi real estate (DIRE) atau real estate investment trust (REIT) juga akan memberikan peluang bagi pengembang membuat proyek-proyek yang dibutuhkan konsumen. "Untuk DIRE kami lagi tunggu peraturan dari Menteri Dalam Negeri soal BPHTB. Yang baru punya komitmen baru Ahok (Gubernur DKI Jakarta)," ujarnya.
Sementara itu, perseroan, dikatakan Archid akan memperkuat kemitraan dengan pemilik lahan. Hal itu terlihat dari komposisi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini yang dianggarkan sebesar Rp 2 triliun di mana 90 persennya dianggarkan untuk konstruksi. "Tahun ini, kami tak banyak belanja tanah, tapi lebih fokus ke konstruksi. Kami mau bagi hasil dengan yang punya tanah. Jadi, bisa hemat di capex," kata dia.
Saat ini, Intiland tercatat memiliki cadangan lahan (landbank) seluas 2.000 hektare (ha), di mana 1.000 ha diantaranya berada di Maja. "Landbank masih cukup untuk pengembangan 10-15 tahun ke depan," ungkapnya
Suara Pembaruan
Lona Olavia/MER
Suara Pembaruan

0 comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.